among us

Tuesday, 14 January 2014

Hellfire Pass Museum: Potongan Sejarah Yang Terlupakan - Part 1

Sengaja saya dahulukan dengan cerita dari museumnya dulu, walaupun yang saya kunjungi duluan adalah Death Railway dan Kwai River Bridge. Ini karena, ceritanya bakal membingungkan kalau saya mulai duluan dari kedua tempat tersebut. Maka, cerita bermula dari Museum Hellfire pass dulu....



Niat awal sebenarnya mau naik bus lagi ke museum ini, namun setelah diskusi dengan seorang supir tuk-tuk, dapatlah harga 130 baht untuk ke museum ini dan ke Sai Yok Noi Waterfall dalam perjalanan pulang. Perjalanan ditempuh dalam 1 jam, dengan ngebut, berangin kencang, dan suhu di luar masih 17 derajat Celcius! Setengah jam pertama saya masih tahan, setengah jam sisanya saya pakai sarung (soalnya yang saya bawa sarung, bukan jaket....ckck...) dan terus berharap cepat sampai di tujuan. Akhirnya, setelah perjalanan di sekitar pegunungan yang sudah dekat dekat Myanmar (katanya, 1 jam lagi udah sampai ke perbatasan Myanmar) kami tiba di Museum yang dijaga tentara.

Linimasa sejarah PD II

Museumnya sepi dan hening, sampai rombongan turis dari Rusia di belakang kami datang dan grasak-grusuk. Dari pintu masuk, petugas mengarahkan kami ke pemutaran film pendek seputar didirikannya museum ini oleh seorang perwira Australia sebagai penghormatan terhadap korban yang kebanyakan orang Australia di sini. Selanjutnya, petugas akan mengarahkan ke ruang museum yang terdiri dari mini bioskop seputar sejarah Hellfire Pass, diorama dan keterangan gambar.

   
Gambar keadaan tahanan
 Jadi ceritanya, waktu PD II, walaupun Thailand menyatakan dirinya netral, tapi ternyata Jepang menekan pihak Thailand untuk menyatakan perang terhadap sekutu. Setelah jatuhnya Burma (Myanmar) ke tangan Jepang, maka untuk memudahkan pergerakan Jepang ke Teluk Thailand dari Myanmar maka Jepang berinisiatif membuat jalur kereta api, menembus gunung dari Ban Pong, Thailand ke Thabyuzayat di Myanmar. Tahun 1943, jalur kereta api dibangun dan selesai 1 tahun kemudian. Terdengar tidak aneh, tapi sebenarnya 200.000 tenaga manusia dikerahkan untuk membangun jalur ini, kebanyakan tahanan perang dan romusha termasuk yang berasal dari Malaya dan Hindia Timur Belanda. Jadi, kemungkinan nenek moyang Anda juga termasuk membangun jalur ini. 

Tahanan hanya diberi makan 2 kali bahkan kadang 1 kali sehari, dalam keadaan hujan atau panas, melewati gunung yang di musim dingin sangat menusuk (saya aja selalu kedinginan di sini...)

Beberapa alat yang dipakai

Sebagaimana melihat museum begini, hati akan selalu miris dan mengiba melihat keadaan mereka. Banyak yang tak pernah pulang dan mati di sini, di sepanjang jalur rel ini (mirip sama Jalur Pos dari Anyer ke Panarukan) dimakamkan seadanya atau bahkan dibiarkan begitu saja. Terkena Penyakit dan malnutrisi adalah lazim dijumpai, demi tujuan Jepang.

Kotak Donasi berisi berbagai mata uang


Saya kira, orang Indonesia jarang kemari. Ternyata waktu saya cek kotak donasi di atas, ketemu juga ada rupiah lain sebelum saya datang. Artinya, kemungkinan ada orang Indonesia yang pernah datang kemari. Kotak donasi terdiri dari berbagai mata uang, menunjukkan dari mana pengunjung ini berasal. Setelah keliling museum, kita disuruh isi buku tamu dan diarahkan ke luar gedung, ke tempat bekas laluan rel kereta api di belakang museum yang merupakan "hasil karya" para romusha dan tahanan perang....

Bersambung...

2 comments:

  1. Ngeri banget liat foto tahanan yang terpampang di museum.

    ReplyDelete